Pameran Kriya Logam Spirit tari Angguk

Pameran Kriya Logam
Spirit tari Angguk

Tari Angguk yang kemudian menjadi tarian khas daerah Kulon Progo, berasal dari Tari Dolalak di Purworejo. Dibawa masuk dan mulai hidup di Kulon Progo pada tahun 1950. Pada mulanya tarian tersebut dibawakan oleh laki-laki, baru pada tahun 1970 mulai dirintis group Angguk Putri. Jumlah penari Angguk antara 12 sampai 20 penari. Namun sering juga kurang dari 12 penari atau lebih dari 20 penari. Memakai kostum seragam ala Opsir Belanda, dengan celana pendek, baju lengan panjang berwarna tua dengan hiasan warna emas. Bertopi dan kaos kaki panjang, tanpa sepatu. Instrumen musik terdiri dari : Kendang, Saron, terbang, Bedhug, Bas, dan Key Bord. Pada umumnya pentas Angguk dibagi menjadi beberapa babak, setiap babak ada 3 bagian. Tahap pertama bagaikan etalase, semua penari tampil ke pentas, menggelar potensi dan daya tarik group Angguk yang bersangkutan, melalui kostum, kelenturan gerak, kekompakan, bloking, musik pengiring dan kemampuan individu penarinya.

Tahap ke dua: adalah puncak pentas Angguk. Pengiring menyanyikan lagu khas Angguk untuk memanggil roh. Walaupun masih dalam frame kelompok, para penari mulai asyik dengan dirinya sendiri, masuk dalam irama menghanyutkan, gerakan-gerakan semakin dinamis, sampai pada puncaknya salah satu atau beberapa penari mengalami trance atau kemasukan roh, ditandai dengan memakai kacamata hitam. Sementara yang lain duduk, penari yang trance terus menari, dengan gerakan individual yang bebas, eksplosif dan erotis. Sesekali ia meminta air putih dan bunga mawar atau sesaji yang di sediakan. Tahap ke tiga : Ketika roh akan meninggalkan penari, ada lagu khusus untuk mengantar kepergian roh. Biasanya sebelum pergi ia minta ketemu dengan panitia penyelenggara untuk mengucapkan terimakasih.

Mengingat kesenian ini ibaratnya ‘bermain-main’ dengan roh, maka dibutuhkan seorang pawang yang bertugas mengawal datang dan perginya roh. 

Namun akan menjadi berbeda manakala peranan ‘sutradara’ termasuk di dalamnya bagian penata kostum, gerak, casting penari dan pawang, diambil alih oleh seniman kriya logam Fendi Andiatmono. Pengambilan alih ini bukan untuk merancang pentas Angguk, tetapi untuk menggelar pameran tugas akhir studi S2 ISI Jogyakarta, kerjasama dengan Rumah Budaya TeMBI di Karta Pustaka, 18-24 Juli 2006. Anak kelahiran Samigaluh Kulon Progo yang juga seorang dosen Universitas Gorontalo ini, sejak kecil akrab dengan kesenian tersebut. Ada pengalaman estetis yang terserap, mengendap dan mengiring perjalanan berkeseniannya. Sehingga ketika Fendi merancang proses berkarya, ada kesamaan tahapan dengan pentas Angguk. 

Tahap pertama: Fendi menggunakan semua endapan dan pengalaman estetis, untuk mencari dan menemukan ide, dengan melihat dan merasakan benda-benda yang ada disekitarnya, terutama property kesenian Angguk. Namun ada kalanya ide muncul karena sebuah imajinasi yang berhubungan secara timbal balik dengan endapan dan pengalaman estetisnya. Proses selanjutnya adalah mengolah bahan yang ada dan mengadakan bahan baru. Dengan kemampuan tehnis, tangannya bergerak dengan pahat dan palu, memukul logam, sesuai sentuhan rasa estetiknya.

Tahap ke dua: setelah proses tehnis selesai, ia memasukan spirit Angguk dalam bentuk energi ke dalam karyanya, seperti seorang pawang mendatangkan roh pada penarinya. Penyaluran energi ini merupakan saat puncak atau masa trance dari proses kreasinya, maka Fendi memilih waktu yang dianggap keramat yaitu pukul 03.00 dini hari. 

Tahap ke tiga : Sentuhan terakhir, penyempurnaan bentuk. 

Ada 18 karya yang di pamerkan. Jika satu karya sama dengan satu babak pentas, artinya Fendi menyuguhkan 18 kali pementasan. Apalagi ditambah dengan ratusan karya yang dihasilkan, sama halnya Fendi telah mengadakan ratusan pentas, dan ratusan kali trance. Lalu berapa besar spirit yang telah ditransferkan? berapa banyak ‘roh’ yang telah ditebarkan? Dan berapa lama waktu yang dibutuhkan? Mungkin Fendi sendiri tidak bisa menjawabnya. Namun yang pasti bahwa sebagian besar hidupnya telah dipertarungkan dalam setiap karyanya. Dan selama itu, spirit dan rohnya akan terus bergetar dalam jiwanya.
Kesenian Angguk yang pentas menyusul dibukanya pameran Kriya Logam, oleh Dwi Maryanto, ketua program S2 ISI Jogyakarta, boleh jadi hanya populer di Kulon Progo. Namun Spiritnya telah menggerakan tangan dan palunya untuk menari-nari jauh di seberang Jawa, Gorontalo Sulawesi. Tetapi apakah spirit dan roh Angguk yang telah menyatu dengan karyanya dapat dirasakan kehadirannya oleh setiap orang yang mengapresiasi karyanya? Terlebih bagi orang-orang yang tidak tahu sama sekali dengan kesenian lokal Kulon Progo ini.


No comments:

Post a Comment